“SSSTTTT, DIAM IBU-IBU...,” sembari mengacungkan telunjuk di mulut. Suasana teras menjadi hening. Hanya tersisa suara dari toa masjid yang terdengar jelas. Begitu juga suara detak jantung ibu-ibu yang ada di teras. Rupanya takmir sedang membacakan laporan keuangan kas.
Mukadimah yang dibacakan terdengar begitu semangat dan hikmat. Namun, yang ditunggu para ibu bukan suara sang takmir. Bukan juga laporan uang kas masjid yang jumlahnya begitu banyak. Yang mereka tunggu adalah pengumuman penyumbang infak sedekah yang diterima masjid.
Dan memang, nama para penyumbang beserta nominal menjadi ajang besar yang ditunggu-tunggu di kampung ini. Seperti dilomba-lombakan, para penyumbang tentu tidak mau reputasinya hancur hanya karena nominal yang lebih sedikit dari lainnya.
Lebih-lebih, kalah jauh dengan penyumbang baru yang sumbangannya lebih besar. Setelah takmir menutup laporannya, Wahyuni tersenyum sambil melontarkan pertanyaan. “Gimana ibu Sumiati? Percayakan kalau Nunung tiba-tiba menyumbang dengan uang yang besar?”
“Iya.”
“Benarkan Nunung tiba-tiba punya uang banyak?”
“Iya.”
“Benarkan Nunung mau dikenal orang kaya?”
“tidak juga.”
“Lho, kenapa tidak, Bu Sum? Apa kejadian kemarin sore belum cukup?”
***
Kemarin sore, Ibu Sumiati, ibu Wahyuni dan ibu-ibu lainnya hadir di masjid untuk menunaikan perintah Pak RT untuk menghitung dan mencatat ulang uang kas masjid. Sumiati dan Wahyuni berbeda tugas dengan ibu lainnya. Di saat para ibu fokus mencatat dan menghitung, Sumiati dan Wahyuni sibuk membuka amplop-amplop yang masuk minggu ini.
Penyumbang yang rela menginfakkan hartanya lantas dicatat namanya oleh Ibu Sumiati beserta nominalnya untuk dibacakan sebelum salat jumat dimulai. Wahyuni sangat detail membaca nama para penyumbang. Tidak ketinggalan, ia juga membanding-bandingkan penyumbang satu dengan lain baik dari segi akhlak, pendidikan, finansial, keturunan, fisik hingga mental.
BACA JUGA : Air Mataku di Keningmu
Waktu berselang, celoteh Wahyuni berhenti saat amplop terakhir dia buka. Ternyata amplop itu berisi sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah. Nominal itu menjadi sumbangan terbanyak untuk minggu ini.
Bukan hanya itu, rupa-rupanya Wahyuni lebih terkejut saat melihat nama si penyumbang. Di amplop tertulis nama Nunung beserta nama anggota keluarganya. Tertulis juga pesan untuk dikirimkan doa kelancaran usaha, rezeki dan kesehatan untuk keluarganya.
Wahyuni sangat heran, mengapa orang yang di dinding rumahnya bertuliskan “Keluarga miskin” bisa menginfakkan dengan rela hartanya. Bukankah lebih baik Nunung memikirkan makanan untuk keluarganya besok? Atau mungkin lebih baiknya uang itu digunakan untuk membangun usaha kecil-kecilan mereka?
“Sum, Sum. Lihat! Si Nunung nyumbang ke masjid dua jutaan! Kira-kira duit dari mana ya?”
“Namanya rezeki, Yun. Tidak ada yang tahu dari mana, di mana dan berapa jumlahnya. Cuma Allah yang tahu.”
“Tapi Sum, jumlah sumbangan ini besar lho... kayaknya kurang masuk di akal kalau si Nunung yang nyumbang.”
“Mungkin bukan Nunung yang kamu maksud.”
“Ga mungkin, Sum. Yang namanya Nunung ya Cuma satu di kampung ini. Lagi pula disini juga tertulis nama anak-anak Nunung.”
“Ya terus kenapa kamu yang sibuk, Yun? Iri ya kamu?”
“Iri? Palingan sumbangan ini pertama dan terakhir si Nunung deh.”
“Istigfar, Yun.”
***
Kembali di suasana teras Sumiati hari ini. Di mana terjadi dua perkubuan di antara ibu-ibu. Kubu pertama mendukung pendapat, bahwa Nunung benar-benar ikhlas menyumbangkan hartanya ke masjid tanpa ada maksud apa pun. Sedangkan kubu kedua kebalikannya, mendukung pendapat kalau Nunung sudah mulai berani angkat dagu di kampungnya.
Suasana semakin menyengat saat Wahyuni dari kubu kedua melempar dugaan kalau Nunung menggunakan pesugihan untuk bisa cepat kaya dan menyumbang sebagian harta hasil petisinya dengan setan ke masjid agar namanya bersih.
Makin lama pendapat para penggunjing mulai tidak masuk akal dan menyimpang terlalu jauh. Hingga ada satu opini yang mengatakan kalau Nunung menjual dirinya untuk menghidupi anak-anak dan suaminya atau bahkan Nunung menggunakan pinjaman online untuk mendapatkan uang secara instan.
Satu minggu berlalu, para ibu kembali berkumpul di teras Sumiati untuk kembali membuktikan perkembangan isu yang sedang membara di kampung. Sama halnya dengan Jumat lalu, para ibu kembali mengarahkan telinga mereka ke toa masjid dan menunggu sang takmir membacakan nama penyumbang beserta nominalnya.
Waktu yang ditunggu telah tiba, alangkah kaget para ibu ketika kembali mendengar nama Nunung disebut lagi dengan nominal sumbangan yang kembali fantastis. Angka itu naik drastis dari dua juta lima ratus rupiah menjadi tiga juta rupiah.
Dari pada memperpanjang fitnah, wanita-wanita itu memilih menyelesaikan masalah secara terbuka dengan berdiskusi di rumah Pak RT. Dengan segera mereka berbondong-bondong ke kediaman Pak RT. Para ibu mengadu bahwa beberapa waktu ini, Nunung sering menginfakkan hartanya ke masjid dengan jumlah yang banyak.
BACA JUGA : Yang tak Pernah Masuk Sistem
Itu tandanya, Nunung sudah dikategorikan warga mampu dan harus dicabut statusnya sebagai keluarga penerima manfaat.
“Bapak kan tahu sendiri kalau KPM itu untuk orang yang berhak, toh?” Wahyuni bertanya dengan lantang.
“Iya, tapi bukan berarti karena dia infak dengan uang yang banyak makanya bantuan sosialnya dicabut. Lagi pula emang kenapa kalau Nunung berinfak? Itukan anjuran agama. Tidak ada salahnya menginfakkan sebagian harta kita dengan ikhlas,” Pak RT menjawab dengan penuh keyakinan.
“Ikhlas? Halah mungkin si Nunung niatnya cuci tangan biar namanya bersih. Toh, tidak ada yang tahu uangnya halal atau tidak.”
“Betul Pak RT, siapa tahu uang yang Nunung dapat dipakai untuk judi online atau jangan-jangan uang itu didapat dari jual diri? Kan bisa bahaya untuk suami-suami kami,” timpal ibu lain menyuarakan pendapatnya.
“Iya, betul!” jawab ibu lain yang tidak mau kalah suara.
“Mau sampai kapan ini terjadi di kampung kita pak? Pokoknya kami sepakat bahwa bantuan Nunung harus dicabut, titik.”
“Lho, lho, lho. Sabar dulu ibu-ibu. Jangan main hakim sendiri dong. Semua masalah harus diselesaikan dengan baik, dengan musyawarah dan mufakat bersama. Dia kan tidak salah menyumbangkan hartanya ke masjid. Hanya fitnah ibu-ibu yang terlalu jauh. Banyak orang di luar sana mengusahakan menyumbangkan hartanya sesulit apa pun ekonomi mereka, tidak juga menimbulkan masalah. Itukan memang anjuran dari Al-Quran.”
“Oo yang itu berbeda pak. Mereka menyumbangkan hartanya atas nama Hamba Allah. Tidak terang-terangan seperti Nunung. Ini Riya! Riya, Pak! Pokoknya kalau bapak tidak bergerak, kami sendiri yang akan mengurus dengan kementerian sosial.”
Pak RT yang diserang dari segala penjuru mulai kewalahan. Penjelasan panjang lebarnya tidak mempan di telinga para ibu-ibu. Karenanya, pak RT memutuskan menemui Nunung di kediamannya ditemani dengan istrinya, Ibu Hafsah.
Sesampainya di rumah salah satu warganya itu, Pak RT dan ibu Hafsah langsung disambut oleh Nunung, seorang ibu yang berpenampilan seadanya dengan aroma minyak angin yang begitu kuat. Seorang ibu yang hidup teratur. Pergi jualan gorengan dan pulang ke rumah tepat waktu. Begitu pula dengan bangun dan tidurnya.
“Jadi... warga bingung ya kenapa saya bisa berinfak begitu banyak di masjid?”
“Iya, betul, Nung.” Jawab Pak RT malu-malu.
“Dan ibu-ibu meminta saya untuk mundur sendiri dari KPM?”
“Iya, kurang lebih begitu, Nung.”
“Baiklah pak, saya usahakan saat berinfak tidak lagi disebut nama saya. Tapi saya mohon sekali pak, untuk tidak mencabut bantuan yang saya dapat. Mau makan apa anak dan suami saya nanti, Pak?”
“Aduh, terima kasih, Nung mau bekerja sama. Insyaallah saya usahakan keluarga kamu masih bisa menerima manfaat bantuan dari pemerintah.”
“terima kasih banyak, pak.”
“Sama-sama Nung. Mohon maklum, saya cuman gamau ada keributan di kampung ini.” Begitulah kira-kira kesimpulan sementara dari hasil pertemuan Pak RT dengan Nunung. Semenjak itu, tidak ada lagi nama-nama yang disebut bergandengan dengan nominal sedekah.
Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Semuanya tetap berjalan hanya saja nama penyumbang diganti dengan samaran “Hamba Allah” agar tidak ada unsur riya di dalam urusan dunia akhirat ini. Pak RT lebih lega sekarang, “semua insyaallah pasti lancar,” ujarnya.
BACA JUGA : Di Rahim Kata, Ibu Mengubur Suara
Ternyata lambat laun, harapan itu gugur. Pak RT masih harus bekerja keras. Pada suatu sore, ibu-ibu kembali berbondong mengepung rumah Pak RT.
“Ada apa lagi ibu-ibu?” Pak RT bertanya dengan rasa heran.
“Bapak bisa benar ga sih menyelesaikan masalah?! Kenapa masih ada nama Nunung di buku laporan uang masjid?” Tanya Wahyuni yang kali ini menjadi pimpinan penggunjing lagi.
“Tenang dulu Bu, tenang,” Pak RT berusaha menenangkan wanita-wanita yang terlanjur naik pitam.
“Kami butuh jawaban, Bapak! Si Nunung masih menyumbangkan uangnya itu dengan jumlah yang makin banyak setiap minggunya! Betul ga ibu-ibu?”
“Betull!” ibu-ibu bersorak serentak.
Pak RT terpaku sejenak. Pak RT baru sadar ternyata setiap penyumbang akan dicatat namanya beserta nominal sumbangan di buku laporan keuangan masjid. Dan fakta yang baru ia sadari dan membuatnya begitu tercengang ialah buku laporan keuangan masjid dipegang ibu-ibu kampung ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kaum ibu sudah dahulu marah karena Pak RT belum bisa menyelesaikan masalah sepele ini.
“Baik ibu-ibu, tenang. Tarik nafas, buang pelan-pelan. Saya jelaskan ya ibu-ibu kalau saya sudah menemui pihak Ibu Nunung untuk memintai keterangan sedekah yang dia salurkan ke masjid kita. Ibu Nunung sendiri mengatakan bahwasanya dia benar-benar ikhlas menyalurkannya dan kami sudah menyepakati sesuatu. Bahwa selanjutnya pengumuman penyumbang tidak lagi disebut nama-namanya. Hanya akan diberi keterangan Hamba Allah saat dibacakan. Toh, ibu-ibu sudah liat sendiri, bukan?
“Diganti sih diganti tapi bapak sudah tahu belum asal usul uang si Nunung? Betul ga ibu-ibu?” Wahyuni belum menyerah.
“Betull!”
Lagi-Lagi Pak RT di serang kembali. Para ibu seperti macan-macan yang mengelilingi mangsanya sembari menatap dengan mata tajam, seperti akan menelan bulat-bulat mangsanya. Yang ditatap pun hanya diam saja. Pak RT memilih untuk tidak memperpanjang masalah karena dia tahu, dirinya memang belum sama sekali menanyakan asal usul uang-uang itu kepada Nunung. Masalah ini kembali membawa Pak RT menemui Nunung di kediamannya.
“Begitu Nung ceritanya, jadi mohon besar hati ya Nung. Maklumlah ibu-ibu kampung yang kental dengan iri dengki,” Pak RT kembali menjelaskan reka kejadian yang tidak ada henti-hentinya.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Mungkin baiknya saya pindah ke rumah ibu saya membawa suami dan anak saya. Biar semua urusan ini selesai.” Nunung menjawab begitu tenang seperti tahu ini akan terjadi kepadanya.
“Waduh, Nung. Saya jadi tidak enak hati dengan kamu. Tapi ini pilihan kamu sendiri. Kami tidak memaksa kamu untuk pindah ya, Nung.”
“Iya bapak, tidak apa-apa. Lagi pula saya dan keluarga memang ada niatan buat pindah ke rumah ibu di kampung sebelah. Soalnya kasihan ibu sudah tua tapi tidak ada yang rawat. Itu juga perintah suami saya, ya... mau tidak mau saya harus ikuti.”
“Loh, kalau begitu kenapa ibu ga dibawa kesini, Nung?”
“Sebenarnya pak..” Nunung terbuka hatinya untuk menjelaskan semua masalah yang mengganjal hatinya. Alasan ini juga yang menjadikan Pak RT untuk memilih diam dan tidak mengumbar-umbarnya.
***
Hari-hari berlalu, tidak ada lagi pengumuman Hamba Allah dan jumlah sedekahnya. Hanya menyebutkan total jumlah pemasukan. Tidak ada lagi ibu-ibu yang mengurusi buku keuangan masjid. Hanya menyisakan tebak-tebakan para ibu, siapa yang telah menyumbangkan hartanya dengan ikhlas ke masjid.
Saat ini mereka tidak lagi mengurusi buku keuangan masjid. Buku itu lebih cocok di tangan marbot masjid. Kini, Nunung juga sudah pindah. Membawa serta anak-anak dan suaminya yang kini kesehatannya semakin memprihatinkan.
Rumah Nunung yang dulu dia tinggali, hanya menyisakan sisa-sisa kemiskinan yang perlahan habis termakan waktu. Stiker “Keluarga Miskin” yang tertempel di depan rumah, perlahan lepas meninggalkan bekas. Atap rumahnya juga perlahan melapuk, menyisakan lubang sebesar mulut sumur. Jendela-jendela hanya menyisakan debu dan usangnya. Lantai yang dulu selalu diusahakan bersih kini tergenang air-air hujan. Tidak ada lagi objek gunjingan bagi wanita-wanita kampung ini. Semua kini berjalan begitu damai.
Hingga satu hari tepatnya sebelum salat jumat dimulai, takmir masjid membacakan sebuah pengumuman. Kali ini bukan perihal laporan keuangan masjid. Pengumuman kali ini lebih penting sifatnya dan lebih menusuk.
BACA JUGA : Tangkat Salat Jumat
Takmir mengumumkan berita kematian suami Nunung. Seorang yang berusaha mengikhlaskan harta terakhirnya di dunia saat tahu bahwa dirinya akan meninggal. Tidak ada yang tahu bagaimana suami Nunung mengetahui kalau ajalnya sebentar lagi direnggut oleh malaikat Izrail.
Hanya satu wasiat yang di titipkan kepada Nunung. Wasiat itu ialah mengambil setengah uang tabungan Suami Nunung untuk keperluan anak-anak mereka dan sisanya untuk diinfakkan semata untuk lillahi taala. Suami Nunung ingin uang yang ditabung untuk menunaikan panggilan Allah ke Mekkah, dikembalikan lagi kepada pemilik-Nya tanpa memelaratkan istri dan anak-anaknya di dunia.
Siang itu, kampung kian mendung. Namun segelap apa pun langit, masih ada secercah cahaya matahari yang menembusnya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Mukhlis bin Sidiq...
M. A. Adriano
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
