Skip to main content
Ilustrasi: Miftah Faridl/Nano Banana 2
Arek Bercerita
Tiga Pasak Kota
Bagi Rego Kuwatlarang, kemiskinan itu patut untuk segera disingkirkan. Apapun cara yang harus dilakukan. Segera dan selekas-lekasnya. Seperti pecahan kaca yang berserak di lantai, jika dibiarkan pasti melukai kaki. Sebab mereka berbahaya, menjijikkan, sekaligus menyebalkan.

SEWAKTU ditugaskan kantor pusat pindah ke kota Daridrata untuk menggantikan Kepala Program Pengentasan Kemiskinan yang lama, pria brilian itu langsung menganalisa medan tempur barunya. Rencana jangka pendek, menengah, hingga panjang ia siapkan sedini mungkin.

Bahkan ia sudah ancang-ancang dengan rencana cadangan jika ada halangan yang akan mengadangnya. Rego hanya ingin hadir, kerja, dan menang layaknya semboyan veni, vidi, vici, yang diusung pasukan Romawi.

Daridrata adalah sebuah kota kecil di bekas cekungan danau purba. Posisinya dikelilingi jajaran bukit, cukup terlindungi dari sinar matahari. Selama perjalanan menuju Daridrata, Rego merasakan suasana yang berbeda dari kota asalnya. Kota ini tidak sibuk, tapi juga tidak luang. Hanya saja penghuninya tampak tidak saling bertegur sapa. Acuh saja dengan rutinitas masing-masing.

“Selamat datang di Daridrata, Pak. Mari silahkan, saya tunjukkan ruangannya,” ucap seseorang yang tampaknya akan menjadi salah satu anak buah Rego. Rego melihat komputer tabletnya. Statistik sembilan puluh sembilan koma sembilan persen terpampang jelas.

“Kenapa bisa ada sisa nol koma satu persen? Padahal kota ini hanyalah kota kecil yang seharusnya bisa nol kemiskinannya.” Suara Rego menggema di dalam ruangan rapat. Itu bukan sebuah pertanyaan. Lebih pada sindiran halus untuk Kepala Program Pengentasan Kemiskinan sebelumnya yang ia nilai tidak becus. Tidak ada jawaban atau sanggahan dari anak buah Rego. Semua bungkam. Tatapan mereka pada Rego menyimpan tanda tanya.

BACA JUGA : Karus, Si Kalah Terus

“Ya sudah kalau begitu, sepertinya memang harus saya sendiri yang turun tangan. Kalau begitu saya butuh satu tim lapangan yang bisa menemani keliling Daridrata.”

“Kami ada tim tanggap berisi lima orang, Pak,”

“Jangan banyak-banyak! saya tidak suka ramai-ramai seperti artis mau kasih sumbangan,” Rego menyingsingkan lengan kemejanya, “tiga orang saja cukup!”

Tiga orang lantas menemani Rego berkeliling Daridrata. Kota ini ternyata tertata sangat rapi. Jalan rayanya mulus. Infrastruktur umum memadai. Mobil dan motor tidak saling klakson di jalan. Tidak ada pemukiman kumuh. Tidak ada hunian liar, bedeng-bedeng ilegal, sampai anak jalanan juga nihil.

Bibir Rego melengkung ke bawah membentuk perahu terbalik. Ia berdehem, sambil mengangguk-anggukkan kepala melihat dari kaca mobil. Sopir berhenti di sebuah lampu merah titik nol kota. Rego mendadak membetulkan posisi duduknya yang semula bersandar pada kursi.

“Apa itu? Tepi! Tepi!” perintahnya pada sang sopir yang kaget agar segera menepikan mobil. Rego mendadak keluar diikuti tiga orang lainnya. Matanya melihat tiga sosok sedang berkumpul di dekat lampu lalu lintas. Seorang pengemis dengan kaki dibalut kain kumal, seorang pengamen kecrekan, dan seorang lagi berpakaian compang-camping yang entah sedang melakukan apa.

Rego dan tim mengawasi gerak-gerik mereka tidak jauh dari sana.  Setiap lampu menunjuk warna merah dengan hitungan enam puluh detik. Mereka bertiga bergegas menuju jalan dan melakukan pekerjaannya. Si baju compang-camping menengadahkan tangannya tinggi-tinggi di samping sebuah mobil.

“Dia sedang apa?”

“Berdoa, Pak.”

“Berdoa?” Rego menoleh mendengar jawaban anak buahnya.

“Betul Pak, mendoakan para pengendara. Seperti pengamen yang menyanyikan lagu untuk dapat uang.”

“Dia berdoa untuk dapat uang?”

“Iya Pak.”

Jawaban itu tidak masuk logika Rego. Ia tidak pernah melihat jasa seperti itu sebelumnya. Anak buahnya melihat keheranan tersebut. Ia melanjutkan jika dulunya lebih banyak “pengamen doa” seperti itu. Mereka bahkan menyatroni rumah-rumah warga. Tapi kini sudah tidak pernah terlihat lagi. Pekerjaan yang dipikir telah punah tersebut, ternyata menyisakan satu orang.

Sedang si pengemis hanya berteriak-teriak tidak jauh dari tempat duduknya. “Kasihan Om, seikhlasnya Tante….,” sambil memukulkan baskom hijau berisi recehan.

Crek, crek, crek, suaranya membuat pemilik mobil tidak tahan untuk melemparkan uang sepuluh ribuan ke arahnya. Ia tertawa menyeret kakinya saat memungut rezeki itu. Ketawanya aneh, tidak lepas. Sepotong-sepotong. Seperti katup udara di kerongkongannya terbuka separuh, lalu tertutup, dan terbuka lagi. Begitu terus berulang. Kawannya si pengamen kecrek mengejeknya.

"Lihat! Lihat! saking miskinnya tertawa saja dicicil."

Ini dia, sumber noda pada wajah Daridrata. Noda terakhir yang harus segera dicuci, kalau perlu di api penyucian sekaligus. Jika kota ini ingin mencapai nol persen kemiskinan. Rego mendekati mereka bertiga, ia bertumpu lutut memperkenalkan diri sebagai perwakilan LSM yang bertugas mendata jumlah warga miskin, walaupun dandanannya tentu tidak bisa bohong.

“Apakah bapak-bapak bersedia untuk didata terlebih dulu? Tidak terlalu lama kok, setelah itu bisa lanjutkan pekerjaan.”

Mereka bertiga kompak menjawab pertanyaan Rego dengan tutup mulut. Si pengamen kecrek lalu menendang kaki si pengemis yang ternyata penuh nanah bau busuk. Ia memberikan kode untuk meninggalkan tempat secepatnya. Sedangkan si pemberi doa sudah lari tunggang langgang lebih dulu. Rego menyipitkan mata ke arah mereka.

“Perlu kami kejar Pak? Sebelum jauh.”

Rego menggeleng pelan, ia bangkit lalu membersihkan lututnya yang berdebu.

“Besok kita lakukan lagi tepat di sini, tangkap kalau memberontak!” lengan kemeja ia ulur kembali ke posisi semula.

“Saya tidak suka kotor.”

Begitulah, maka keesokan harinya Rego dan tim kembali ke lokasi lampu merah titik nol kota. Namun kali ini hanya ada si pengemis berkaki nanah. Rego tidak perlu cepat-cepat. Toh, si pengemis tidak mampu pergi jauh jika ingin kabur. Tampak si pengemis memalingkan mukanya saat Rego datang. Ia tetap teriak pada mobil dan motor yang lalu lalang di depannya.

BACA JUGA : Setelah Pagar Tertutup

“Selamat pagi.” Ucap Rego berusaha ramah. Ia tersenyum pada si pengemis. Tapi yang ia sapa tetap tidak menjawab. Rego kembali menyatakan niatnya untuk mendata si pengemis. Siapa namanya, tinggal dimana, apakah memiliki keluarga, berapa penghasilannya. Si pengemis tetap bungkam. Dia malah mengusap-usap kaki dengan kain penutup yang sudah kumal. Rego melirik pada kaki bernanah itu. Ia menatap pada anak buahnya yang langsung mengerti harus berbuat apa. Mereka memegangi tangan si pengemis.

“Kalian mau apa?”

“Anda tenang saja, kami akan mencoba membantu,” Rego mencubit kain dengan telunjuk dan ibu jari. Ia lalu mengeluarkan obat tetes untuk luka, ia teteskan ke beberapa titik. Si pengemis meringis menahan perih. Lalu nanah yang masih menetes dari luka menganga segera disumpal dengan kain kasa.

Rego cukup yakin tindakannya akan membuat si pengemis bisa tidur nyenyak malam ini. Tapi tiba-tiba saja mendadak angin berhembus dengan liarnya. Disertai bau menyengat menyerbu mereka dari segala penjuru. Bau yang sangat memuakkan. Busuk dan sangat busuk.

Rego menutup hidungnya sekuat tenaga. Seketika kondisi berubah drastis, banyak pengemudi yang keluar dari mobil. Mereka muntah sekaligus menutup hidungnya rapat-rapat. Kondisi yang sangat menyiksa. Si pengemis meraih kakinya, ia membuang kain kasa dan mengusap bekas obat tetes sampai hilang.

Saat nanah kembali mengalir, angin itu berhenti. Rego menoleh tidak percaya pada anak buahnya. Mereka tidak berani menatap memberi jawaban. Si pengemis menahan tubuhnya dengan tangan, ia berdiri lalu pergi meninggalkan Rego dalam kebingungan.

“Apa-apaan tadi?!” Rego masih tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Ia melihat pada anak buahnya tanpa memperdulikan si pengemis yang sudah tidak diketahui keberadaannya. Tidak satupun dari mereka mampu menjawab. Rego kembali ke kantor dengan kesal.

Malamnya ia adakan rapat mendadak, ia tidak ingin kejadian aneh seperti pagi tadi terulang. Ia memerintahkan tim untuk melanjutkan pendataan pada esok hari. Besoknya mereka tiba pagi-pagi sekali. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kemunculan ketiganya di lampu merah titik nol kota. Rego dan tim menunggu berjam-jam.

Hingga matahari jatuh ke barat, barulah muncul satu orang. Kali ini si pengamen kecrek. Ia terlihat celingukan menatap cctv, lalu saat lampu merah menyala langsung berlari menuju deretan mobil-mobil. Rego dan tim segera menyergapnya. Ia tidak bisa mengelak lagi dari serangan mendadak.

“Kami sudah menunggu anda dari pagi, mana kawan-kawan anda yang lain?”

Si pengamen seperti halnya si pengemis juga menutup mulutnya serapat mungkin.

“Tidak datang hari ini ya? Atau sedang libur? Ya sudahlah yang penting anda masih bisa didata. Nama anda siapa? Tinggal di mana selama ini? Dan kalau boleh tahu pendapatan harian anda berapa?”

Sudah dapat diduga, si pengamen diam bagai kuburan angker. Tidak ada yang keluar dari kerongkongannya. Yang terdengar malah bunyi perutnya.

Rego memanggil salah satu anggota timnya, anak muda itu datang membawa sebuah gitar ukulele berwarna  coklat kayu.

“Untuk anda, jika anda bersedia didata, anda boleh membawanya secara cuma-cuma.”

Si pengamen sempat goyah, ia ragu pada tawaran Rego. Tapi kemolekan gitar ukulele tersebut terlalu mengguncang imannya. Ia mengambil gitar dari tangan Rego, melihat-lihatnya sejenak, lalu memposisikannya di depan dada. Baiklah, orkestra segera dimulai. Ia memainkan irama khas.

Genjrengan dari jari yang terbuka dan tertutup sangat rancak. Sebuah lagu terlantun begitu saja dihadapan Rego dan timnya. Entah lagu apa itu, tapi si pengamen cukup senang. Hingga lagi-lagi kejadian tidak terduga melanda mereka. Lamat-lamat sirine terdengar dari kejauhan. Klakson mobil bersahutan layaknya bayi kembar sepuluh berebut untuk minum susu.

Suara-suara memekakkan telinga muncul ramai tak terkira. Rego menutup telinganya, ia menunduk menahan gendang yang hampir saja lepas. Sakit sekali suara itu melewati telinga. Si pengamen langsung membanting gitar ukulele yang baru saja ia mainkan. Ia mengais kecrekan kemudian lari secepat kilat dari lokasi kejadian.

Tidak lama keadaan berangsur pulih, suara memekakkan telinga kembali hilang. Klakson juga tidak lagi terdengar. Suasana kembali terkendali. Rego bangkit, ia tidak sadar baru saja duduk terjatuh memegangi telinga yang bisa saja bengkak jika tidak ditutup.

Ia masih berusaha menenangkan diri. Kejadian gila apalagi ini pikirnya. Benar-benar diluar nalar. Malamnya Rego tidak bisa tidur barang sedetik pun. Ia membolak-balikkan tubuh ke kiri juga ke kanan.

Ia menyimpan berjuta pertanyaan. Apa yang sudah terjadi? Sebetulnya kota seperti apa Daridrata ini? Namun bukan Rego Kuwatlarang jika ia menyerah secepat ini. Ia terkenal ambisius akan tujuannya. akan ia hadapi semua rintangan tersebut bahkan jika itu bukan sesuatu yang bisa dilogikakan.

Saat muncul pagi-pagi di kantor, Rego sudah menyiapkan beberapa antisipasi untuk kejadian-kejadian aneh di hari sebelumnya. Ia berpikir mungkin niatnya sudah salah, ia tidak akan memaksa untuk mendata mereka terlebih dulu. Rego akan datang sebagai kawan lama yang hanya ingin mendengarkan cerita mereka. Kemudian berupaya sekuat tenaga memberikan bantuan layak agar mereka merasa diterima.

Mobil melaju pelan keluar dari kantor. Rego meminta untuk berputar-putar terlebih dahulu. Ia juga menduga bisa jadi lampu merah titik nol kota adalah lokasi ajaib. Di mana, semua kegilaan tak terkendali bisa berlangsung di sana.

Hampir siang ia dan tim tetap tidak menemukan keberadaan mereka bertiga. Sampai akhirnya rasa penasaran mereka bermuara, tentu hanya ada satu lokasi yang tertuju. Lampu merah masih di detik ke delapan belas, Rego melihat jelas si pemberi doa sedang memanjatkan pinta.

Permohonan pada Sang Maha Kaya. Rego mendekatinya dengan hati-hati, ia menunggu sampai doa-doa itu selesai dipanjatkan. Rego baru sadar jika tidak ada kalimat jelas yang keluar dari mulut si pembawa doa. Itu tidak lebih dari sekedar grundelan tak bermakna. Tidak ada arti. Tidak juga khusyuk. Rego masih berusaha memicingkan telinga. Siapa tahu ia salah dengar. Tapi kemudian makin yakin jika memang doa tersebut hanya gumam tanpa hikmah.

Si pembawa doa terperanjat melihat keberadaan Rego beserta seluruh tim sudah ada di dekat lampu merah. Lampu sudah menuju hijau kembali, ia harus siap-siap menepi kalau tidak mau disasak mobil.

BACA JUGA : Hidup di Negeri Omong-omong

Rego tersenyum tulus. Ia tidak memaksa dan tak pula berusaha menangkap si pembawa doa. Ia mengajak kawan barunya itu untuk duduk bersila di trotoar dekat titik nol. Rego hanya memberikan sekotak penuh nasi dengan sayur dan lauk pauk. Mereka juga mengeluarkan nasi milik masing-masing untuk dimakan bersama-sama. Rego membantu si pembawa doa mencuci tangannya. Nasi kotak itu sungguh sangat menggiurkan di tengah terik dan kosongnya lambung. Si pembawa doa merengkuh nasi berkah penuh suka cita. Saat tangannya akan diangkat untuk bermunajat, seketika Rego menahannya.

“Izinkan saya yang mendoakan ya Pak, demi pertemuan sederhana ini.” Pinta Rego penuh harap. Si pembawa doa mengangguk, Rego berdoa dengan sangat jelas, suaranya sedikit dikeraskan. Entah apakah itu bentuk sindiran pada si pembawa doa atau memang karena lalu lintas sedang ramai.

Selepas doa mereka menikmati makanan dengan lahap. Rego tidak merasakan apapun saat itu. “Aman, saya berhasil,” bisiknya dalam hati.

Tidak ada pembicaraan, tidak ada pertanyaan. Semua murni ingin menikmati hidangan. Saat sedang mempreteli tulang dari daging ikan, Rego merasa ada yang tersangkut di tenggorokannya. Ia meminta anak buahnya untuk diambilkan minum, juga menyediakan untuk si pembawa doa. Satu-dua tegukan tidak mampu menghilangkan sakit di tenggorokannya. Ia merasa makin lama makin sesak.

Kali ini sakit itu berpindah ke dada dan jantungnya. Rego mulai panik, ia melihat sekitar. Ternyata anak buahnya juga mengalami hal serupa. Satu persatu mereka menekan dada dan leher. Rego menengok ke arah si pembawa doa. Ia santai saja makan, tapi terlihat samar-samar dalam proses mengunyah makanan itu ia juga sambil menggumam.

“Bangsat! Hentikan doamu!” Rego berusaha menutup mulut si pembawa doa. Tapi percuma saja, udara di sekitarnya mulai menipis. Sesak dirasakan hampir di semua penjuru. Mobil-mobil yang tadinya rapi mulai bersenggolan, tabrakan tidak lagi terhindarkan.

Rego putus asa, ia mencoba meraih lengan si pembawa doa. Tapi pandangannya mulai kabur. Hampir saja ia bersujud jatuh jika tidak ada satu tepukan di bahu si pembawa doa. Muncul dua sosok di sana, si pengemis dan si pengamen kecrek.

“Sudah cukup, ia sudah kesakitan.” Kata si pengamen kecrek pada si pembawa doa. Mulutnya berhenti komat-kamit. Udara melegakan kembali hadir memasuki rongga-rongga nafas Rego dan semua yang ada di situ. Rego berusaha meraba dan menguasai hatinya. Ia hampir saja mati konyol oleh sebab aneh.

“Anda hanya melakukan hal yang sungguh sia-sia tuan. Kami-kami ini tidak pernah diizinkan berhenti miskin. Bukan karena tidak ingin, tapi lebih kepada menjaga keseimbangan kota Daridrata ini.” Tiba-tiba suara si pengamen kecrek mendahului semuanya. Matanya melihat mobil-mobil yang masih berserakan dan saling menyalahkan satu sama lain.

“Kemakmuran untuk seluruh penghuninya seperti yang selama ini anda paksakan akan membawa bencana beserta seluruh marabahaya bagi warga kami.”

“Kalau kami pergi, kota ini tidak akan bertahan lama. Seperti pasak, yang menjaga agar bangunan di atasnya tetap kokoh. Sudah seperti itu dari dulu. Mungkin suatu hari si pengemis ini akan mati karena infeksinya, atau saya secara naas tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Saat itu terjadi, berarti harus ada orang apes lain yang mesti rela menggantikan kami.”

BACA JUGA : Carik Absori, Khalifah di Muka Bumi

Si pengemis dengan kaki bernanah mencoba duduk di sebelah si pembawa doa,

“Kami dijaga untuk tetap seperti ini tuan,” timpal si pengemis.

“Anda tidak akan mampu mengubahnya.”

Rego terdiam menatap mereka bertiga. Ia tidak mampu melihat solusi lain dari semua keanehan ini. Bagai simalakama. Bagi Daridrata, yang berbahaya bukanlah kemiskinan, justru yang berbahaya adalah ketika tidak ada lagi yang mampu menanggungnya. 

Untuk pertama kalinya Rego mengetahui, kemiskinan bukan musuh yang dapat dikalahkan, melainkan syarat yang harus dipenuhi. Ketiga orang miskin itu memandangnya. Selama mereka miskin, kota ini tidak perlu berubah.

 

 

Faisal Fadhli

*Penulis lulusan Fakultas Hukum yang menyukai seni, film, olahraga serta sejarah. Dikenal dengan nama pena GoresTerka, sekarang sedang menekuni dunia kepenulisan. Terutama cerpen, sudah menulis sejak remaja dan mulai mengirimkan karya di tahun 2022. Instagram @goresterka


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.