PERTANYAAN-PERTANYAAN itulah yang berputar di kepala Rini sore itu, saat ia menunggu kendaraan ojek online yang baru saja ia pesan di gawainya. Usianya baru delapan belas tahun, baru saja melepaskan seragam putih abu-abu yang selama tiga tahun menjadi sahabat setianya, dengan ijazah kelulusan terselip rapi di dalam tas ransel—selembar kertas yang seharusnya menjadi pintu gerbang masa depan, namun hari ini kakinya memilih jalan yang berbeda, jalan yang penuh pertanyaan dan ketidakpastian.
Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor bebek berwarna kusam berhenti di hadapannya; Rini naik tanpa banyak bicara, tak pernah sekalipun ia memandang atau mempedulikan kondisi kendaraan itu, baginya hanyalah alat antar-jemput biasa, tak lebih, tak kurang.
Jarak usia di antara Rini dan Fahmi terentang delapan belas tahun, sama persis dengan usia gadis itu saat ini. Angka itu bagai dua sisi mata uang: satu masih segar bertunas, penuh mimpi dan kejujuran hati; satu lagi sudah menginjak usia matang yang sarat beban, luka, dan kewajiban yang terasa berat di bahu.
Sejak awal pertemuan di kelas, Fahmi sudah menegaskan batas yang tegas, bak dinding batu yang kokoh tak mudah runtuh. “Rini, Pak Fahmi sudah beristri, sudah punya dua anak. Keluarga adalah amanah yang harus dijaga sepenuh hati,” ucapnya dulu dengan suara tenang namun berwibawa.
Rini tahu betul, ia bukan anak kecil yang tak paham arah, ia sadar betul status gurunya, sadar betul bahwa rumah itu bukan tempat yang pantas ia tuju. Namun dorongan hatinya lebih kuat dari akal sehat, ia datang bukan untuk merusak, melainkan untuk menyampaikan sesuatu yang sudah lama terpendam, sesuatu yang mungkin hanya dirinya yang mengerti, sesuatu yang selama ini dikubur rapat-rapat di balik senyum tipis dan helaan napas panjang gurunya.
BACA JUGA : Blok F
Ojek online yang ditumpanginya akhirnya berhenti di depan pagar rumah berwarna hijau pudar. Halamannya luas, ditumbuhi rumput liar yang mulai menjalar tak terawat, seakan mencerminkan isi rumah di baliknya—tak terurus, sepi, dan penuh kekacauan yang tak terlihat mata. Rini turun, membayar ongkosnya dengan cepat tanpa menoleh lagi pada pengemudi maupun kendaraannya, lalu melangkah masuk melewati gerbang yang berderit keras seolah memprotes kedatangannya.
Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka lebar. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, wajahnya keras, matanya menatap tajam bak pisau yang terhunus. Itu adalah Bu Nila, istri Fahmi. Di belakangnya tampak dua wanita lain yang lebih tua, ibunya dan bibinya, wajah-wajah yang sering Rini dengar kisahnya dari Fahmi, kisah yang selalu berakhir dengan keheningan yang panjang dan penuh kepahitan.
“Eh, ada tamu tak diundang rupanya,” suara Bu Nila meninggi, tajam dan penuh sindiran, meluncur keluar bak air bah yang meluap menembus bendungan. “Siapa kira-kira? Gadis muda, cantik, baru lulus sekolah. Mau apa ke rumah orang, hah? Mau cari perhatian suami orang, ya?”
Rini tertegun, mulutnya terkatup rapat. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan, namun kata-kata seakan tertahan di kerongkongannya, berat dan sulit dikeluarkan. Belum sempat ia membuka suara, wanita yang berdiri di samping Bu Nila, ibunya, maju selangkah, wajahnya memerah karena amarah yang meledak-ledak. “Dasar pelakor! Ular rumah tangga orang! Tidak tahu malu memang anak muda zaman sekarang. Baru besar sedikit sudah berani mengganggu rumah tangga orang lain. Kamu pikir kami tidak tahu apa-apa? Kamu datang kemari pasti ada maksud jahat, mau merampas apa yang bukan hakmu!”
Kata-kata itu melesat cepat, menusuk tepat ke dada Rini. “Ular rumah tangga”, istilah itu terasa berat, kasar, dan menyakitkan, bak duri tajam yang menancap dalam-dalam ke dalam daging. Dua wanita lainnya ikut maju, mengelilingi Rini bagai kawanan burung pemangsa yang mengincar mangsa lemah yang tak berdaya. Mereka mengatainya dengan kata-kata yang makin tajam, makin menyakitkan, seolah segala kejahatan dunia ada di pundak gadis delapan belas tahun itu, seolah ia adalah sumber segala masalah yang menimpa rumah tangga itu.
“Pergi saja kamu! Jangan tampakkan wajahmu di sini lagi! Rumah kami bukan tempat main-main anak kurang ajar!” seru bibi Bu Nila, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian sore yang tadinya tenang.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rini. Ia menunduk, bahunya berguncang menahan tangis yang ingin meledak keluar. Hatinya perih, teriris-iris oleh tuduhan yang tak berdasar itu. Ia datang dengan niat tulus, membawa pesan yang ingin disampaikan, namun disambut dengan kebencian yang begitu pekat, begitu tebal, seolah ia adalah musuh besar yang harus dimusnahkan.
Di sudut ruang tamu, ia melihat Fahmi berdiri diam, wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca namun tak berani bergerak, terkurung di antara dinding-dinding yang seharusnya menjadi tempat berlindung, namun justru menjadi penjara baginya.
Di halaman samping, terparkir rapi sebuah sepeda motor matik berwarna biru cerah—kendaraan yang Fahmi beli hasil keringatnya sendiri, namun seringkali dipakai dan dikuasai seenaknya oleh istrinya dan keluarga istri, seolah itu milik mereka sepenuhnya.
Ketika makian itu mulai mereda, hilang menjadi gema yang memudar di udara, Rini mengangkat wajahnya. Air mata sudah membasahi pipi, mengalir turun membelah wajah yang masih polos itu, namun matanya kini menatap lurus, berani dan penuh ketegasan, seakan ada kekuatan baru yang merayap masuk ke dalam jiwanya, kekuatan dari kebenaran yang selama ini terpendam. Ia menatap satu per satu wanita di depannya, mulai dari Bu Nila, hingga ke ibunya yang masih menatap penuh kebencian dan prasangka.
BACA JUGA : Tongkat Salat Jumat
“Bu, Ibu, Bibi… Ibu semua bilang saya ular rumah tangga, saya pelakor, saya pengganggu,” suaranya bergetar namun terdengar jelas, bak aliran sungai kecil yang tetap mengalir meski dihantam bebatuan tajam. “Tapi ada satu hal yang Ibu semua tidak tahu, rahasia yang selama ini Pak Fahmi simpan rapat-rapat dalam hatinya, yang hanya saya dengar lewat cerita-cerita diamnya, lewat tatapan matanya yang selalu penuh beban dan kelelahan yang tak pernah ada habisnya.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberanian yang ada, lalu melanjutkan, “Ibu semua selalu merendahkan Pak Fahmi. Selalu menganggap ia tak berharga, tak mampu, tak punya apa-apa. Padahal, siapa yang membeli rumah ini? Siapa yang membangun dinding-dinding ini, yang membeli perabot yang Ibu duduki sekarang, yang memenuhi lemari dengan beras dan pakaian yang Ibu pakai? Semua itu hasil keringat Fahmi.
Bahkan motor matik biru yang sering Ibu pakai ke sana kemari, itu pun uangnya dari keringatnya, dari lelahnya bekerja siang malam, mengajar, mengambil pekerjaan sampingan apa saja yang halal, pulang larut malam demi memenuhi kebutuhan rumah ini, demi memberi yang terbaik buat Ibu dan anak-anaknya. Tapi apa balasan Ibu semua? Tidak ada rasa syukur sedikit pun. Semua yang dilakukan Fahmi selalu dianggap kurang, selalu dianggap salah, selalu ada saja cacat yang dicari.”
Rini menoleh ke arah ibu mertua Fahmi, matanya menatap tepat ke manik mata wanita itu, menembus ke dalam hati yang selama ini tertutup rapat. “Ibu selalu menilai Fahmi salah, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia diam, dikatakan sombong dan angkuh. Kalau ia bicara, dikatakan kurang ajar dan melawan. Kalau ia memberi nafkah, dikatakan sedikit dan tidak cukup. Kalau ia berusaha lebih, dikatakan pamer dan ingin dihargai. Di rumah ini, seharusnya tempat istirahat, tempat pulang yang aman dan nyaman, tempat di mana ia seharusnya dicintai dan dihargai, Fahmi justru merasa seperti orang asing. Rumah ini bukan lagi tempat berteduh, melainkan penjara tak berdinding yang setiap hari menyiksanya dengan kata-kata pedas dan pandangan sinis yang menusuk hati.”
Suaranya melembut, namun makin menusuk ke dalam hati mereka, bagai jarum kecil yang menembus kulit tebal. “Ibu semua bertanya, mengapa Fahmi mau berbicara dengan saya, mengapa ia merasa nyaman bercerita pada saya? Bukan karena ada hal yang tidak pantas, bukan karena saya ingin merebutnya, bukan karena ada hubungan terlarang seperti tuduhan Ibu semua. Tapi karena di samping saya, ia merasa dihargai.
Di samping saya, ia didengar, bukan dimaki. Di samping saya, ia dianggap manusia biasa yang punya hati, punya perasaan, punya lelah yang butuh diakui, punya rasa sakit yang butuh didengar. Sementara di sini, di rumahnya sendiri… ia tak lebih dari sekadar mesin pencari uang yang selalu disalahkan, yang kewajibannya dituntut habis-habisan tapi haknya dilupakan sama sekali.”
Keheningan mendadak menyelimuti ruangan, berat dan menyesakkan. Makian yang tadi bergema keras kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh kebisuan yang panjang. Bu Nila menunduk, wajahnya berubah pucat pasi, seakan baru disadarkan dari mimpi buruk. Ibunya diam terpaku, mulutnya terkatup rapat seakan kata-kata yang keluar dari mulut Rini telah mengunci lidahnya sendiri, membungkam segala alasan dan pembelaan diri.
Kebenaran itu terasa pahit, lebih pahit dari empedu, namun tak bisa dibantah lagi. Selama ini mereka memang hanya melihat kekurangan Fahmi, hanya menuntut hak, tapi lupa menjalankan kewajiban saling menghargai, saling menyayangi, dan bersyukur atas apa yang ada.
Rini mengusap air matanya dengan punggung tangan, membalikkan badan perlahan. “Saya pergi sekarang. Saya tidak akan datang lagi. Tapi semoga kata-kata saya ini menjadi cermin buat Ibu semua, agar Ibu sadar siapa yang sebenarnya ada di samping Ibu semua selama ini, siapa yang berjuang mati-matian menjaga rumah ini tetap berdiri tegak.”
Langkah kakinya terasa berat, seolah ada rantai yang mengikat kakinya, namun hati kecilnya terasa lega, seolah beban yang berat sudah terangkat dari pundaknya. Ia berjalan keluar melewati halaman yang penuh rumput liar itu, menuju ke gerbang yang masih berderit sama seperti saat ia datang. Angin sore berhembus makin dingin, membawa serta bau tanah yang kering dan kesepian yang mendalam.
BACA JUGA : Rombongan Bisu
Belum jauh ia melangkah, terdengar langkah kaki terburu-buru dari belakang, langkah yang berat namun tergesa. Rini berhenti, menoleh. Fahmi berdiri di sana, wajahnya lelah sekali, matanya merah dan bengkak, tangan kanannya menggenggam selembar amplop berwarna cokelat tua. Ia berjalan mendekat perlahan, tak peduli lagi pada orang-orang yang masih diam terpaku di ambang pintu rumahnya sendiri, tak peduli lagi pada pandangan atau makian yang mungkin akan datang.
“Rini… tunggu sebentar!” Suaranya parau, serak, penuh kepahitan yang menumpuk bertahun-tahun, penuh rasa sakit yang tak pernah sempat ia luapkan. Ia menyodorkan amplop itu ke tangan gadis muda itu, tangannya gemetar sedikit. “Ini… surat panggilan sidang cerai dari Pengadilan Agama. Saya sudah ajukan berkasnya beberapa waktu lalu, diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka. Hari ini keputusannya sudah keluar. Rumah ini… memang sudah tak bisa diselamatkan lagi. Pondasinya sudah rapuh, dimakan rasa tidak syukur dan kebencian, tak ada gunanya dipertahankan lagi.”
Rini menatap amplop itu dalam diam, lalu menatap wajah gurunya yang terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya, wajah yang akhirnya terlihat sedikit lebih tenang, sedikit lebih lega. Di matanya, Rini melihat kelegaan yang bercampur dengan kesedihan yang mendalam, seakan beban berat yang dipanggulnya bertahun-tahun akhirnya terangkat sedikit demi sedikit.
“Mari, saya antar kamu pulang,” ucap Fahmi pelan, lembut namun tegas, lalu berjalan menuju ke halaman samping tempat motor matik birunya terparkir. Ia naik ke atas kendaraan itu, menyalakan mesin yang menderu halus namun mantap, sama seperti detak jantungnya yang mulai menemukan ritme baru. “Ayo boncengan. Jalanan mulai gelap, dan saya takut kamu pulang sendirian. Tak perlu pesan ojek lagi, biar saya yang antar sampai depan pagar rumahmu.”
Rini mengangguk pelan, lalu berjalan menghampiri dan naik ke jok belakang motor itu. Ia memegang pinggang Fahmi dengan ragu, namun perlahan tangannya menggenggam erat, merasakan kehangatan dan kekuatan yang baru saja ditemukan lelaki itu.
Motor matik berwarna biru itu bergerak meninggalkan halaman rumah, melaju perlahan namun pasti, meninggalkan dinding-dinding yang pernah menjadi penjara bagi satu jiwa yang lelah, meninggalkan kebisuan yang berat dan penyesalan yang mulai tumbuh di hati wanita-wanita yang tertinggal di sana.
BACA JUGA : Mantra Seniman
Di belakang mereka, Bu Nila dan kedua wanita itu masih berdiam diri, tak bergerak, tenggelam dalam pikiran masing-masing, seakan baru sadar bahwa apa yang mereka anggap milik mereka selama ini—rumah, harta, bahkan motor yang sering mereka pakai—perlahan namun pasti, telah hilang dari genggaman tangan mereka sendiri, hilang karena ulah mereka sendiri.
***
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit yang berwarna ungu kelabu, dihiasi bintang-bintang pertama yang mulai muncul. Di jalanan yang mulai sepi itu, Fahmi memacu motornya pelan, menembus angin malam yang mulai berhembus dingin namun terasa segar.
Di boncengannya, Rini diam membisu, hatinya penuh dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, campuran antara sedih, lega, dan harapan baru. Ia tahu, ia bukanlah ular rumah tangga seperti tuduhan mereka. Ia hanyalah gadis muda yang tanpa sengaja menjadi saksi betapa hancurnya sebuah rumah tangga yang dibangun tanpa rasa syukur, tanpa penghargaan, dan tanpa kasih sayang yang tulus.
Dan di depan sana, di balik kegelapan malam yang panjang, keduanya sama-sama tahu: ada jalan baru yang terbentang, jalan yang mungkin masih berliku dan penuh duri, namun setidaknya… jalan itu membawa mereka menuju tempat di mana hati bisa beristirahat dengan tenang, jauh dari kata-kata tajam dan pandangan sinis yang selama ini meracuni kehidupan. Rumah bukan lagi sekadar bangunan berdinding batu, melainkan tempat di mana keberadaan seseorang dihargai, didengar, dan dicintai sepenuh hati.
Khairul Azzam El Maliky
Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.