ADA KEGELISAHAN yang sering muncul ketika melihat generasi muda saat ini. Banyak yang membicarakan isu-isu seperti perubahan, ketidakadilan, kesadaran politik bahkan revolusi. Diskusi tentang sistem ekonomi, politik, kekuasaan hingga masa depan tatanan masyarakat mudah ditemukan baik dalam ruang tatap muka maupun di media sosial.
Namun seiring antusiasme itu, ada sebuah paradoks yang jarang disadari. Banyak yang mengkritisi sebuah gagasan yang ada saat ini, tetapi cara mereka untuk mendapatkan validasi akan gagasannya sendiri masih sama dengan logika sistem yang mereka kritisi.
Di satu sisi, ada antusias kesadaran para generasi muda yang patut diapresiasi. Banyak anak muda yang berani membicarakan ketimpangan ekonomi, kekuasaan politik hingga masa depan demokrasi. Hal-hal yang dulu terasa jauh dari percakapan sehari-hari kini menjadi bagian dari konsumsi publik.
Di lain sisi, ada fenomena yang tidak kalah menarik untuk dibahas dan seharusnya menjadi kesadaran bersama. Banyak gagasan yang beredar, menjadi kritik sosial tetapi sering kali lebih dekat dengan pencitraan intelektual daripada proses berpikir yang benar-benar mendalam.
Sebuah validasi yang diharapkan dari opini atau gagasan kini ditentukan penilaian acak audiens. Standarisasi baru tercipta dalam bentuk angka, yaitu jumlah like, views, komentar, dan followers. Tanpa disadari ini membuat tolak ukur sebuah opini atau gagasan baru dapat dikatakan penting jika karena populer atau viral, dan kritik sosial dianggap tajam ketika ramai dibagikan.
BACA JUGA : Hukum Runtuh Bersama Gedung Al Khoziny
Padahal validasi berbasis popularitas tersebut tidak otomatis berisi kebenaran.Generasi muda saat ini lebih masif dan agresif menyuarakan isu-isu politik hingga mengutip teori-teori sosial. Kritik hanya terlihat radikal di permukaannya saja tetapi tanpa substansi. Hanya sekadar batas reaksi dalam berekspresi yang dilalui bukan dengan proses berpikir yang mendalam. Gagasan yang seharusnya menjadi bahan refleksi justru dengan mudah berubah menjadi konten mengikuti arus algoritma dan sekadar berakhir sebagai konsumsi digital.
Menarik Kembali Sejarah “Revolusi Industri”
Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu masif, kita perlu melihat dari perspektif sejarah yang lebih panjang. Terjadi selama akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 dunia mengenal perubahan besar yang disebut sebagai Revolusi Industri. Pada masa itu mesin produksi mengubah struktur ekonomi secara drastis, pabrik-pabrik bermunculan produksi massal berkembang dan kehidupan manusia mulai diatur sesuai ritme industri.
Dalam sistem itu yang menjadi komoditas utama adalah tenaga kerja manusia. Waktu kerja dihitung, produktivitas diukur, dan tenaga manusia menjadi bagian terpenting dalam mesin ekonomi yang lebih besar. Kritik terhadap kondisi ini, berkembang dalam berbagai teori sosial, salah satunya melalui analisis Karl Marx. Ia melihat bagaimana sistem produksi modern dapat mengubah manusia menjadi proses akumulasi dalam kapital.
Kapitalisme hingga kini tidak berhenti beradaptasi. Ia akan terus menemukan cara untuk memperluas wilayah eksploitasi. Pada masa kini, generasi kita hidup dalam peralihan fase industri yang berbeda. Ekonomi berbasis produksi fisik yang membutuhkan tenaga kerja manusia tetap penting, namun digitalisasi membuat bentuk ekonomi yang baru lahir dalam bentuk produk digital.
BACA JUGA : Menakar Keadilan di Atas Piring Kosong
Kapitalisme model ini semakin masuk ke ranah privasi manusia dengan memanfaatkan teknologi seperti media sosial. Setiap detik yang dihabiskan dalam media sosial oleh manusia memiliki nilai ekonomi dengan menghasilkan data, interaksi dan trafik yang dapat dikonversikan menjadi keuntungan bagi perusahaan teknologi.
Dengan kata lain, kapitalisme modern tidak lagi menjadikan tenaga manusia sebagai komoditas utama melainkan digantikan dengan perhatian manusia. Platform digital dirancang sedemikian rupa untuk membuat perhatian manusia bertahan selama mungkin.
Konten-konten singkat yang mengandung unsur emosi reaktif cenderung lebih laku di pasaran ketimbang gagasan yang memerlukan waktu pemikiran dan pemahaman lebih mendalam. Akhirnya kritik sosial, opini dan gagasan kita dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme pasar yang cepat. Isu yang kompleks disederhanakan menjadi slogan dan analisis yang panjang dipersingkat menjadi kalimat dramatis.
Memahami Paradoks Validasi
Di titik ini, perbedaan validasi terbagi menjadi dua: validasi komersial dan validasi pemikiran. Validasi komersial bekerja mengikuti ritme kapitalisme modern yang menuntut kecepatan daripada ketepatan. Sebuah gagasan dianggap berhasil jika mampu menarik perhatian banyak orang. Ukurannya sederhana, apakah orang-orang tertarik? Apakah mereka segera beraksi?
Dalam logika ini sebuah ide tampak terlihat seperti produk yang diproduksi hanya agar "laku", ia harus cepat dipahami, mudah diingat dan cukup provokatif untuk memancing respons. Masalahnya jika cara berpikir kita mengikuti logika tersebut maka kualitas gagasan kita tidak lagi menjadi prioritas teratas.
Banyak orang yang akhirnya hanya memikirkan ide berdasarkan perspektif viralitas agar terlihat menarik daripada mengedepankan apakah ide itu benar-benar kuat secara argumentatif. Tidak jarang kritik terhadap sistem ekonomi pun menggunakan pola mekanisme yang sama. Kritik sosial dibuat sedramatis mungkin agar populer dan aktivisme bisa berubah menjadi identitas digital yang dipertahankan agar tetap relevan di mata audiens.
BACA JUGA : Ada Politik di Meja Makan sampai Urusan Asmaramu
Sebaliknya, validasi pemikiran justru membebaskan kesadaran kita dari logika kapitalisme modern. Validasi pemikiran bekerja dengan mekanisme yang berlawanan dari validasi komersial. Dalam budaya intelektual, sebuah gagasan tidak dianggap kuat hanya karena banyak orang yang menyukainya, melainkan gagasan tersebut dapat menjawab kritik dengan argumentasi.
Sebuah ide harus melalui serangkaian perdebatan, pembuktian, dan pengujian. Diperkuat lagi ide tersebut dengan tahapan untuk dipertanyakan, ditantang dan bahkan diserang.
Justru melalui proses inilah kualitas sebuah gagasan dapat terlihat. Memang perlu waktu lebih lambat dan seringkali tidak menghasilkan popularitas instan, namun hal itu menciptakan sesuatu yang lebih penting yaitu kedalaman kesadaran. Karena dibutuhkan kesabaran membaca, kemampuan menganalisis, dan kesediaan untuk mengakui kesalahan jika argumen kita ternyata lemah.
Revolusi Gaya Baru Generasi Muda
Pemikir revolusioner seperti Tan Malaka pernah menekankan, perubahan sosial tidak dapat bergantung pada reaksi emosi massa sesaat. Tetapi membutuhkan pendidikan politik dan kesadaran rasional yang kuat. Tanpa itu, gerakan sosial mudah berubah menjadi gelombang sesaat yang cepat muncul tapi juga cepat hilang. Di sinilah kegelisahan terhadap generasi muda masa kini menjadi masuk akal.
Kita hidup di zaman dengan akses informasi terbesar dalam sejarah manusia. Paradoks yang kita hadapi karena hidup dalam ekosistem yang menjadikan perhatian sebagai "pemeran utama" dalam banyak aspek kehidupan, sedangkan refleksi mendalam terhadap suatu narasi yang kian terpinggirkan menjadi alasan kuat banyaknya generasi muda masa kini yang gagal memikirkan dasar dari suatu akar persoalan.
Barangkali ini yang membuat gagasan revolusi gaya baru akhirnya menjadi relevan dengan keadaan. Revolusi ini tidak secara langsung merebut kekuasaan, tetapi berkaitan dengan cara manusia memperlakukan pikirannya sendiri, perubahan manusia dalam menilai sebuah gagasan. Revolusi gaya baru berarti membangun generasi yang tidak mudah tunduk pada logika kapitalisme modern. Generasi yang mampu membedakan antara sesuatu yang populer dan sesuatu yang benar.
Ini memang bukan tugas yang mudah, ekosistem kapitalisme modern bekerja sangat kuat dengan memusatkan arah produksinya terhadap "perhatian" dan hampir semua orang saat ini hidup di dalamnya. Bahkan kritik terhadap sistem seringkali tetap perlu ruang dalam sistem itu sendiri agar dapat didengar dan dikenali.
Justru di situlah tantangan intelektual terbesar bagi generasi muda hari ini. Bagaimana menggunakan ruang dalam ekosistem kapitalisme modern ini tanpa sepenuhnya diperbudak logika kapitalisme itu sendiri? Membiasakan diri untuk membaca lebih jauh sebelum merasa memahami sebuah isu dan tidak langsung ikut menyebarkan opini hanya karena populer atau viral.
Berani mempertanyakan gagasan populer dari orang-orang yang terlihat kompeten, bahkan ketika mayoritas orang menerimanya secara mentah begitu saja. Hal-hal semacam itu mungkin terlihat sederhana tetapi dalam dunia yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas, kemampuan untuk menjaga kemandirian berpikir justru menjadi bentuk perlawanan yang paling mendasar.
Generasi muda tidak boleh lagi takut untuk berdikari dalam berpikir selayaknya para generasi muda tempo dulu yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa melawan penjajahan, imperialis dan kolonialis. Hari ini perjuangan kita adalah untuk memerdekakan pikiran kita dari kebebasan semu yang diberikan ekosistem kapitalisme modern. Pentingnya pendidikan pembebasan untuk meningkatkan kemampuan kita membaca realitas.
Generasi muda sudah seharusnya menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan dari sistem penindasan. Mereka yang beruntung, mendapatkan pendidikan tinggi, adalah kaum terdidik yang harus berpikir dan berperilaku sebagaimana intelektual organik, bukan tukang. Sebab, kita bukanlah skrup kapitalisme!
Pendidikan pembebasan adalah senjata perlawanan untuk mendorong revolusi abad ini yang jelas beda medan juang dengan generasi terdahulu. Kita saat ini berada di dunia hiper realitas yang semakin memudarnya batas antara yang nyata dan maya.
Bagaimana jadinya jika generasi muda hari ini, terutama yang berkesempatan merasakan pendidikan tingkat tinggi, masih terjebak bias validasi? Jika ini semua dianggap normal, maka beban baru yang harus ditanggung generasi selanjutnya. Ingat, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana, alih-alih ‘bonus’.
BACA JUGA : Hilangnya Imajinasi Kemerdekaan
Lapar validasi sebenarnya bukan lahir dari ruang hampa. Penguasa, sekali pun mereka memiliki suprastruktur dan struktur kekuasaan berserta aparatusnya, masih haus validasi. Mereka masih ingin dianggap bekerja, berhasil dan berpihak pada rakyat. Penguasa menganggap validasi sebagai simbol, bahwa kekuasaan selalu ada di antara kehidupan yang mereka kuasai.
Mungkin revolusi terbesar di abad ini bukan hanya tentang perubahan sistem ekonomi atau politik. Revolusi terbesar mungkin terjadi ketika manusia mulai menyadari bahwa kesadaran sebuah generasi sedang diperebutkan.
Dan jika generasi muda mampu membebaskan cara berpikirnya dari paradoks antara validasi komersial dan pemikiran, maka revolusi itu tidak hanya akan mengubah masyarakat, melainkan juga mengubah hubungan manusia dengan teknologi, informasi, dan bahkan dengan dirinya sendiri. Jika tidak, validasi akan menjadi candu yang memisahkan kita dengan realitas yang ada. Yang tersisa, hanyalah keterasingan.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.
