MENOLAK PATUH menjadi judul besar seni jalanan ini. Disobey yang merupakan menolak segala bentuk kepatuhan (disobedient) dipilih untuk menggambarkan sikap terhadap normalisasi kekerasan yang dilakukan negara pada ragam peristiwa di September Hitam. Revolt, sang seniman, memilih jalan sunyi dari sapuan cat untuk memberi suara pada mereka yang tak lagi bisa bersuara.
“Banyak peristiwa terjadi pada September, banyak yang dibunuh. Namun tidak ada satu pun yang mendapatkan keadilan. Karya-karya ini, menjadi pengingat, bahwa semua yang terjadi tak boleh dilupakan,” ujar Revolt.
Revolt mencoba ‘menghidupkan’ kembali ingatan tentang Genosida ’65, Tragedi Talangsari, pembantaian Tanjung Priok, pembunuhan Salim Kancil dan Munir sampai perburuan anak-anak muda kritis pasca Agustus 2025. Ia melihat, negara berusaha mendisiplinkan cara pandang rakyat melihat tragedi itu sebagai peristiwa yang wajar, normal bahkan diperlukan.

Ada 10 poster dan empat mural karya Revolt. Ia mengatakan, semua karyanya lebih bersifat satir dan jenaka meski menceritakan tentang tragedi dan pelanggaran HAM. Pria yang sudah 25 tahun berkarya itu tidak sama sekali menunjukkan kekerasan. Ia menganggap, kekerasan adalah sifat penguasa, sehingga karyanya tak perlu mengambil apa yang menjadi milik penguasa itu.
BACA JUGA : Di Negeri ini, Tragedi Dianggap bak Komedi
Ia tak ingin mewarisi budaya kekerasan kepada anaknya dan generasi mendatang. Bagi Revolt, itulah tantangan dalam melahirkan karya. Revolt harus memikirkan bentuk yang menggambarkan sebuah tragedi dengan satir bahkan jenaka, tanpa mengurangi makna apalagi mereduksi peristiwa itu.
Puncak dari sebuah karya adalah pesan satir yang bisa mengajak orang berpikir. Jadi tidak perlu ada visual kekerasan. Cukup penguasa yang menggumbar kekerasan itu setiap hari. Kita jangan,” ujar Revolt.
Munir tampak menjadi salah satu figur dalam poster dan mural karya Revolt. Ia mengambil visual Munir yang mengendarai sepeda motor bebeknya sembari mengepalkan tangan kiri ke udara. “Apa kabar kawan? Tetap berjuang!” Pesan itu ditulis seolah Munir menyapa kita semua.
Ada pula gambar seorang tentara mengenakan celemek dan topi khas koki. Di tangan kanannya, ia membawa ompreng MBG dan tangan kirinya memegang irus. ‘Siap cooking, Ndan!’ tulisan di poster itu. Visual ini sarat kritik atas militerisme di banyak ruang sipil, tak terkecuali proyek makan bergizi gratis (MBG).
Revolt juga mengajak publik berimajinasi melalui salah satu karyanya. Poster itu adalah siluet dua orang dalam satu wajah. Sosok yang beda, namun sama. Tokoh yang memiliki latar belakang sama, militer dan pelanggar HAM. Mereka adalah Soeharto dan Prabowo dalam satu wajah. “Tebak saja, sebelah kanan siapa dan yang kiri siapa,” ujar Revolt sembari tertawa.
BACA JUGA : Kisah Klasik untuk Masa Depan Suram
Disobey atau ketidakpatuhan Revolt dalam melahirkan karya, tertuang jelas dalam poster dan muralnya. Ia mengaku tidak ingin dibatasi apa pun dan oleh siapa pun. Isu-isu sosial, politik, lingkungan dan praktik korup menjadi bahan bakar setiap karya kritisnya. “Suara saya, ada dalam bentuk gambar. Seniman bisa apa, selain mengajak masyarakat berpikir setelah melihat karyanya,” kata Revolt.

Karya mural Revolt bisa dilihat di sejumlah jalan di Surabaya. Ada di Jalan Raya Ngagel, Jemursari, Arjuno. Jalanan sebenarnya menjadi kanvas hidup karya Revolt. Artivisme jalanan Revolt ditempa dalam perjumpaan-perjumpaannya dengan masyarakat yang hidup di jalan.
BACA JUGA : Agar Keadilan Tragedi Kanjuruhan Tak Jadi Debu
Beberapa kali Revolt terlibat dalam aksi dan gerakan artivisme melalui karya-karyanya. Seperti berkolaborasi dengan kawan-kawan Komunitas Kretek, Transparency International Indonesia, Greenpeace, Save Street Child Surabaya melalui mural dan karya-karya posternya.
Beberapa kali juga terlibat dalam solidaritas warga sipil dengan ilustrasi gambarnya yang dicetak format kaos sebagai bagian dari bentuk donasi dan propaganda gerakan, seperti Waduk Sepat, limbah pabrik Lakardowo, Tamansari Melawan dan gerakan kolektif lainnya.
Kawan-kawan silahkan pakai gambar-gambar di poster ini. Bebas. Ada kebahagiaan yang tak ternilai karya ini dipakai untuk mengadvokasi isu-isu kerakyatan. Mungkin saya tidak ikut demonstrasi di jalan. Tapi saya mengadvokasi lewat karya,” imbuh Revolt.
Revolt 2 kali mengadakan solo show pameran street art di Surabaya dan Malang. Dan di pameran ke-3 kali ini bekerjasama dengan kontraS Surabaya, Revolt menampilkan 20 karya ilustrasi (poster), zine book dan 5 mural street art yang dibuat di 5 titik di Surabaya dengan tema-tema yang ada di dalam September.
Menolak Diam, Memilih Membangkang!
Oleh Obed Bima Wicandra
(Dosen DKV UK Petra Surabaya)
Ada saat ketika gambar tidak lagi cukup hanya dilihat. Gambar terkadang ingin mengganggu, ingin membuat mata berhenti, membuat tubuh sedikit gelisah, dan memaksa kita bertanya tentang mengapa sesuatu yang semula dianggap biasa tiba-tiba terasa provokatif? Di titik inilah REVOLT hadir.
Melalui pameran DISOBEY di KontraS Surabaya, XGo Warhol, yang kali ini menggunakan nama REVOLT, membawa kembali apa yang selama ini menjadi bahasa visualnya sebagai seniman jalanan melalui poster ilustrasi juga mural, yang tidak terlalu berminat untuk bersikap netral. DISOBEY, sebagaimana dijelaskan XGo, berarti ketidakpatuhan. DISOBEY bukan saja sebuah kata.
DISOBEY adalah sikap yang ditempatkan di ruang publik sebagai sebuah pertanyaan, yaitu sampai sejauh mana kepatuhan harus dipertahankan ketika kekuasaan mulai menentukan apa yang boleh dilihat, dikatakan, dan diperdebatkan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin keras ketika pameran ini ditempatkan dalam konteks September Hitam. Dalam ingatan politik Indonesia, bulan ini berkelindan dengan berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terus meninggalkan pekerjaan ingatan yang belum selesai.
Kita mengingat adanya tragedi kemanusiaan di tahun 1965-1966 saat terjadi penangkapan massal, pembunuhan, dan penghilangan paksa ratusan ribu jiwa yang dituduh terlibat atau terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) tanpa proses hukum yang adil.
BACA JUGA : Eksil 1965
Kemudian ada Peristiwa Tanjung Priok (1984), Tragedi Semanggi II (1999), pembunuhan aktivis HAM Munir (2004), pembunuhan pada seorang petani sekaligus aktivis lingkungan, Salim Kancil (2015), pembunuhan aparat pada Pendeta Yeremia di Papua (2020), serta adanya korban jiwa saat aksi Reformasi Dikorupsi (2019).

Karena itu, kerja bersama REVOLT dan KontraS Surabaya tidak saja mempertemukan seni dan lembaga advokasi. Pameran ini juga mempertemukan gambar dengan ingatan, dinding dengan sejarah, dan ekspresi visual dengan persoalan tentang bagaimana sebuah masyarakat mengingat kekerasan.
Jacques Rancière membantu kita memahami persoalan tersebut melalui gagasan tentang distribution of the sensible (2004), pembagian atau pengaturan mengenai apa yang dapat dilihat, didengar, dikatakan, dan dikenali sebagai sesuatu yang bermakna. Politik, dalam pengertian ini, bukan hanya berlangsung di parlemen, ruang sidang, atau bilik suara.
Politik juga berlangsung ketika sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat tiba-tiba muncul di hadapan publik. Seni menjadi politis bukan semata-mata karena membawa pesan politik, tetapi karena melawan. Ia dapat menciptakan dissensus atau gangguan terhadap apa yang dianggap sebagai “akal sehat” bersama.

Maka karya-karya visual REVOLT tidak perlu diperlakukan hanya sebagai gambar yang memiliki pesan. Karya-karya itu sedang menginterupsi. Ia memasuki ruang pandang dengan bahasa yang ringkas, keras, dan langsung. Mural bekerja dengan cara yang berbeda, tetapi memiliki energi yang serupa. Dinding tidak lagi sekadar permukaan arsitektural. Ia berubah menjadi tempat munculnya suara yang sebelumnya tidak memperoleh ruang.
Seni jalanan memiliki persoalan yang menarik. Grafiti tidak menunggu ruang yang sepenuhnya disediakan oleh institusi seni; begitu pula dengan mural yang memiliki sejarah kedekatan dengan jalan, tembok, lorong, pagar, dan berbagai ruang sehari-hari. Bahasa visualnya tumbuh dari kebutuhan untuk hadir. Karena itu, ketika bahasa tersebut dibawa masuk ke ruang KontraS, terjadi perpindahan konteks yang menarik.
Seni jalanan masuk ke ruang advokasi, sementara ruang advokasi memperoleh kembali energi visual dari jalanan. Pertemuan tersebut membuat DISOBEY tidak berhenti pada persoalan estetika. Ia menjadi ruang untuk mempertanyakan siapa yang memiliki hak untuk menentukan bahasa di ruang publik.
Chantal Mouffe (1989) menawarkan cara lain untuk membaca hubungan tersebut. Bagi Mouffe, ruang publik bukanlah ruang yang seharusnya selalu menghasilkan kesepakatan. Demokrasi justru membutuhkan ruang bagi perbedaan, konflik, dan pertarungan berbagai proyek hegemonik.
BACA JUGA : Menagih Janji Negara atas Tragedi HAM Papua
Dalam model demokrasi agonistik, konflik politik tidak harus dihilangkan; ia perlu diberi bentuk sehingga perbedaan dapat hadir tanpa harus menghapus keberadaan pihak lain. Karena itu, praktik seni dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan re-politisasi ruang publik atau membuat kembali sesuatu yang dianggap selesai menjadi persoalan yang dapat diperdebatkan.
Dalam kerangka tersebut, DISOBEY dapat dibaca sebagai praktik estetika yang mengembalikan konflik ke permukaan. Ia tidak menawarkan kenyamanan berupa konsensus. Ia justru membuat ketidaksetujuan terlihat. Itulah sebabnya kata “DISOBEY” menjadi penting.
Ketidakpatuhan ini bukan hanya jargon untuk membangkang. Kata itu adalah pernyataan tentang hubungan antara warga sipil, kekuasaan militeristik, dan ruang untuk berbeda.
Ketika XGo menggunakan poster dan mural untuk mengartikulasikan ketidakpatuhan, ia memindahkan perlawanan dari wilayah slogan politik menuju wilayah visual. Perlawanan tidak hanya diteriakkan; ia digambar. Tidak hanya diucapkan; ia ditempelkan, dicetak, dicoret, dan ditinggalkan di hadapan mata.
Namun, justru kita perlu berhati-hati. Seni perlawanan tidak otomatis menjadi politik yang efektif hanya karena membawa simbol perlawanan. Sebuah poster dapat menjadi benda dekoratif. Sebuah mural dapat berubah menjadi latar swafoto. Bahkan kata “revolt” sekalipun dapat kehilangan daya ganggunya ketika terlalu sering direproduksi.


Politik estetika selalu berhadapan dengan kemungkinan bahwa bahasa perlawanan akan diserap kembali oleh sistem yang hendak dilawannya. Mouffe sendiri mengingatkan bahwa praktik artistik kritis harus terus berhadapan dengan persoalan bagaimana mempertahankan dimensi antagonistik dan politisnya dalam ruang yang mudah dinetralisasi.
Karena itu, kekuatan DISOBEY bukan terletak pada kemampuannya memberikan jawaban final. Kekuatan pameran ini justru berada pada kemampuannya mengusik pertanyaan. Apa yang terjadi ketika ketidakpatuhan menjadi gambar? Apa yang terjadi ketika dinding berubah menjadi ruang perdebatan? Apa yang terjadi ketika sejarah kekerasan tidak dibiarkan menjadi arsip, tetapi kembali muncul sebagai bentuk visual yang keras dan mengganggu?
BACA JUGA : Kaleidoskop September Menghitam
REVOLT tidak menawarkan gambar untuk dikagumi. Hal ini menjadi sama ketika kita melihat poster bergambar dua rupa dalam satu wajah: Prabowo-Soeharto. Dua manusia, tapi satu wajah militeristik-otoritarian.
Poster ini menawarkan gangguan. Semengganggu itulah kira-kira ucapan dan tindakan Prabowo-Soeharto. Dan mungkin, itulah yang membuat seni perlawanan tetap diperlukan. Bukan karena seni mampu menggantikan politik, tetapi karena seni dapat mengganggu cara politik dilihat.
Seni juga dapat membuka kembali sesuatu yang dianggap telah selesai. Seni dapat membuat yang disisihkan kembali terlihat. Di tengah sejarah yang terus meminta untuk diingat, dan kekuasaan berbaju militeristik yang selalu memiliki kecenderungan untuk mengatur batas antara yang boleh dan tidak boleh terdengar, DISOBEY memilih untuk berdiri di wilayah yang tidak nyaman. Memilih membangkang.
